Bersama bersaudara dalam kesatuan: Kerukunan sebagai kebajikan publik melalui pemaknaan paradigmatis-teologis Mazmur 133

Authors

  • Yehuda Mandacan Sekolah Tinggi Teologi Erikson Tritt
  • Federans Randa Sekolah Tinggi Teologi Erikson Tritt, Manokwari
  • Donna Crosnoy Sinaga Sekolah Tinggi Teologi Erikson Tritt, Manokwari
  • Rifky Serva Tuju Sekolah Tinggi Teologi Erikson Tritt, Manokwari

DOI:

https://doi.org/10.30995/kur.v11i3.1499

Keywords:

Psalm 133, rukun, kerukunan, public virtue, Indonesian public theology, peace theology, Mazmur 133, rukun, kerukunan, kebajikan publik, teologi publik Indonesia, teologi perdamaian

Abstract

This article constructs a Christian public theology of harmony (kerukunan) by employing Psalm 133 as a theological paradigm for understanding Indonesian cultural values within a biblical framework. While Indonesian rukun has been critiqued as promoting conflict avoidance that perpetuates structural injustices, this study argues for a theological reconstruction that retrieves its generative potential as a public virtue. Through historical-critical exegesis of Psalm 133, anthropological-theological analysis of the rukun concept, and comparative theological methodology placing both in critical correlation, this article demonstrates how the psalmist's vision of unity (yachad) provides a biblical-theological foundation for kerukunan that transcends passive tolerance. The analysis reveals that authentic rukun, informed by the covenantal and eschatological dimensions of Psalm 133, functions as active peacebuilding that honors both unity and justice. This research contributes to contextual theology by demonstrating how indigenous cultural values, when critically appropriated through biblical hermeneutics, can enrich both local Christian witness and international theological discourse.

 

Abstrak

Artikel ini mengkonstruksi teologi publik Kristen tentang kerukunan dengan menggunakan Mazmur 133 sebagai paradigma teologis untuk memahami nilai budaya Indonesia dalam kerangka alkitabiah. Meskipun rukun Indonesia telah dikritik sebagai sikap menghindari konflik yang melanggengkan ketidakadilan struktural, penelitian ini berargumen untuk rekonstruksi teologis yang mengambil kembali potensi generatifnya sebagai kebajikan publik. Melalui eksegesis historis-kritis terhadap Mazmur 133, analisis antropologis-teologis terhadap konsep rukun, dan metodologi teologi komparatif yang menempatkan keduanya dalam korelasi kritis, artikel ini menunjukkan bagaimana visi kesatuan (yachad) sang pemazmur menyediakan fondasi biblis-teologis untuk kerukunan yang melampaui toleransi pasif. Analisis mengungkapkan bahwa rukun autentik, yang diinformasikan oleh dimensi perjanjian dan eskatologis Mazmur 133, berfungsi sebagai pembangunan perdamaian aktif yang menghormati kesatuan dan keadilan sekaligus. Artikel ini berkontribusi pada teologi kontekstual dengan mendemonstrasikan bagaimana nilai-nilai budaya indigenous, ketika diapropriasi secara kritis melalui hermeneutika biblika, dapat memperkaya kesaksian Kristen lokal dan diskursus teologis internasional.

References

Clifford Geertz, The Religion of Java (Chicago: University of Chicago Press, 1960), 232-233.

Downloads

Published

30.12.2025

Issue

Section

Articles

How to Cite

“Bersama Bersaudara Dalam Kesatuan: Kerukunan Sebagai Kebajikan Publik Melalui Pemaknaan Paradigmatis-Teologis Mazmur 133”. 2025. KURIOS 11 (3): 752-62. https://doi.org/10.30995/kur.v11i3.1499.